Studi Kasus ALTER-JANE

dari sudut pandang Psikologi Klinis

Jane Deviyanti Hadipoespito (21) diliputi rasa duka. Pasalnya sang suami, Alterina Hofan (32), lelaki transgender akhirnya meringkuk di tahanan lantaran dituduh memalsukan identitas. Tak kurang akal, gadis tuna rungu ini membuat ‘Gerakan Peduli Alter dan Jane’ di situs jejaring sosial Facebook. Dukungan kini mencapai hampir 2 ribu orang.(sumber: www.tabloidnova.com)

Berdasarkan berita, diketahui bahwa Alterina Hofan (32) mengidap syndrom klinefelter yang sedari kecil dianggap sebagai seorang perempuan, tetapi kemudian ia mengubah status identitas gendernya menjadi seorang pria. Sedangkan Jane Deviyanti Hadipoespito (21) adalah seorang wanita tuna rungu, putri dari CEO Universitas Binus, yang telah menjadi istri dari Alterina Hofan.

Penyebab kasus dari Alter-Jane adalah berasal dari orangtua Jane. Berdasarkan laporan orangtua Jane yang pada awalnya melaporkan bahwa Alter menculik Jane, tetapi kemudian di ubah setelah mengetahui bahwa Jane adalah istri sah Alter. Laporan kemudian di ubah menjadi laporan dengan tuntutan pelanggaran Pasal 266 KUHP tentang Pemalsuan Identitas dalam Akta Otentik juncto Pasal 263 KUHP dan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan. Orang tua Jane dalam hal ini ibu Jane yang bernama Grace yang menyatakan bahwa Alter melakukan pemalsuan keterangan gender dalam akta otentik.

Dalam kasus ini, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan oleh psikolog klinis dalam membuat evaluasi dan rekomendasi untuk membantu penyelesaian perselisihan antara orangtua Jane dan pasangan pasangan Alter dan Jane.

INTERVENSI

Berdasarkan pemaparan kasus yang sesuai dengan pemberitaan di media massa, psikolog klinis dapat menempatkan dirinya dalam area Law Enforcement Psychology yaitu dimana dalam area ini psikolog klinis secara langsung mendukung agensi yaitu seperti menyediakan intervensi krisis untuk polisi dengan membantu polisi menanyakan saksi mata untuk meningkatkan rekoleksi polisi mengenai tindakan kriminal.

Hal-hal yang dapat dilakukan yaitu:

  1. Menggali informasi mengenai awal kelahiran Alter dari pihak kedokteran dan pihak-pihak yang menangani kelahiran Alter. Untuk mengetahui bagaimanakah kronologis ketika Alter lahir. Apakah Alter lahir dengan ciri kelamin perempuan atau kah pihak kedokteran yang menangani kelahiran Alter pun mengalami kebingungan atas kelamin Alter  karena ciri kelamin Alter tidak biasa yang disebut syndrome klinifelter?
  2. Menginterview ibu Alter untuk mengetahui tentang latar belakang, historis kehidupan kedua orang tua Alter dan kehidupan semasa di Papua.
  3. Menginterview ibu Alter dan pihak-pihak yang memiliki kaitan dengan diubahnya identitas kelamin pada surat-surat Akta dan KTP seperti yang dituduhkan ibu Jane. Seperti pihak kelurahan yang mengubah dan pihak-pihak terkait lainnya. Juga menginterview ibu Jane untuk mengetahui kronologis yang terjadi hingga akhirnya ibu Jane menyetujui dan membuat permohonan pengubahan identitas Alter.
  4. Menginterview kedua orangtua Jane untuk mengetahui latar belakang, historis dan yang menyebabkan kedua orangtua Jane melaporkan menantunya (Alter) hingga Alter harus mendekap dalam penjara.
  5. Melakukan pemeriksaan Forensik pada Alter yang dilakukan pihak diluar keluarga Jane dan pasangan Alter Jane. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi manipulasi terhadap hasil pemeriksaan forensic tersebut oleh pihak siapapun. Sehingga untuk hal yang berhubungan dengan pemeriksaan forensik mengenai kejelasan kelamin Alter dan jika memang Alter benar memiliki gangguan yang dalam hal ini disebutkan sebagai syndrome klinifelter ada kejelasan yang pasti dan tidak tumpang tindih seperti yang saat ini terjadi.
  6. Melakukan interview dan assessment lainnya khususnya pada kedua orangtua Jane dan juga pada ibu Jane.
  7. Melampirkan tes psikologi yang menunjukkan bahwa orientasi seksual Alter memang memiliki gender sebagai pria (maskulin) bukan wanita (feminim) dengan alat yang valid dan reliabel
  8. Melampirkan tes psikologi yang valid dan reliabel yang dapat menunjukkan bahwa Alter adalah seorang yang normal
  9. Melampirkan konsekuensi-konsekuensi (faktor eksternal dari lingkungan) yang akan di alami Alter bila ia mengubah status gendernya dari perempuan menjadi laki-laki ketika ia masih anak-anak

10.  Dengan memberikan pada pengadilan lampiran bukti-bukti hasil tes dari jenis kelamin alter dari rumah-rumah sakit yang berbeda yang menunjukkan bahwa ia berkelamin pria dalam syndrom Klinefelter

11.  Melampirkan kasus-kasus yang mirip dengan Alter dan berhasil memenangkan persidangan

12.  Melampirkan UU yang mengatur atau memperbolehkan seseorang dengan kelainan fisik akibat bawaan lahir (sindrom kinefelter) untuk mengobati kelainannya guna melangsungkan kehidupannya

Dari uraian hal-hal dan saran-saran yang mungkin dapat dilakukan oleh psikolog klinis dalam area Law Enforcement Psychology, sedangkan dalam pengadilan seorang psikolog klinis dapat berperan dalam kegiatan The Experts Witness (saksi ahli). Disini psikolog klinis  menjabarkan kompetensi-kompetensi Alter sebagai pasien dengan syndrom Klinefelter mendapatkan hak-haknya untuk mendapatkan treatment yang dapat membuatnya sembuh atau sekurang-kurangnya membaik baik fisik dan psikis. Dan menjelaskan mengapa Alter berprilaku mengubah identitas gendernya di saat dewasa dan bukan di saat anak-anak. Dan penjelasan tersebut di uraikan dengan menggunakan pengetahuan teori psikologi yaitu seperti dengan menggunkan teori dari Deutsch & Krauss, 1965) tentang level of aspiration. Teori ini menyatakan bahwa keinginan seseorang melakukan tindakan ditentukan oleh tingkat kesulitan dalam mencapai tujuan dan probabilitas subyektif pelaku apabila  sukses dikurangi probabilitas subjektif kalau gagal.  Teori ini dapat dirumuskan dalam persama seperti berikut:

V = (Vsu X SPsu) – (Vf X SPf)

Dimana:

V = valensi = tingkat aspirasi seseorang

su= succed = suksesf = failure = gagal

SP= subjective probability

Dan menjelaskan kondisi Alter dengan menggunakan pendektaan Teori Kognitif yaitu tindakan yang dilakukan Alter mengganti identitas adalah normal dan bukan bentuk penyimpangan ataupun upaya transgender. Psikolog dapat menguraikan hal-hal dan upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh seorang penyimpang yang berniat kriminalitas dan membandingkan prilaku tersebut dengan prilaku Alter yang normal.  Dimana “normal” dalam arti ini adalah setelah disesuaikan dengan kondisi eksternal (lingkungan) dan internal Alter.

Demikian hal-hal dan upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh seorang psikolog klinis dalam psikologi forensik.

Referensi:

http://forum.psikologi.ugm.ac.id/index.php?topic=56.0;wap2

http://d-tarsidi.blogspot.com/2009/03/psikologi-forensik.html

http://aldiavanza.blogspot.com/2010/04/psikologi-forensik.html

www.kompas.com

www.tabloidnova.com

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lansia dalam Menghadapi Kematian

Selama proses menuju lanjut usia, individu akan banyak mengalami berbagai kejadian hidup yang penting (important life event) yang sering dipandang sebagai sesuatu yang negatif, antara lain klimaterium, menopouse-andropouse, sangkar kosong (empty nest), berbagai kemunduran fisik, pensiun dan kejadian hidup lainnya yang dapat menyebabkan pemikiran yang negatif. Menurut Hardywinoto dan Setiabudi (1999), pada lanjut usia akan terjadi kehilangan ganda (triple loss) sekaligus yaitu kehilangan peran, hambatan kontak sosial dan berkurangnya komitmen.

Adapun sebab-sebab kematian secara umum, yaitu:

  1. Tua
  2. Sakit
  3. Kecelakaan
  4. Dibunuh
  5. Bunuh diri

Namun sikap lansia itu sendiri terhadap kematian, yaitu:

1)      Berakhirnya existensi manusia atas keadaan yang nyata di dunia ini

2)      Putusnya relasi atas sesama manusia di dunia padahal relasi dengan yang di alam seberang belum di ketahui

3)      Takut menghadap sang Pencipta, terlebih kalau hati nurani masih terganggu Takut kehilangan hal-hal duniawi, seperti harta, kepemilikan dan kedudukan

Sedangkan dalam menghadapi kematian terdapat tahap-tahap jika seorang lansia sudah di vonis dokter bahwa hidupnya tak akan lama lagi, yaitu:

  1. Tahap menyangkal:”Tidak mungkin!”
  2. Tahap marah: “Mengapa saya?”
  3. Tahap tawar menawar:”Apakah tidak ada obat lain?”
  4. Tahap depresi: Susah, Termenung
  5. Tahap menerima

Jadi jika kita ingin memahami dan menghibur orang lain (lansia) yang mengalami masa-masa sulit ini maka kita perlu mengetahui lansia tersebut sedang berada di tahap yang mana sehingga hiburan yang kita berikan dapat di terima olehnya.

Sedangkan menurut Hakim, S.N ( 2003 ) secara fisik lanjut usia pasti mengalami penurunan, tetapi pada aktivitas yang berkaitan dengan agama justru  mengalami peningkatan, artinya perhatian mereka terhadap agama semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya usia .  Lanjut usia lebih percaya bahwa agama dapat memberikan jalan bagi pemecahan masalah kehidupan, agama juga berfungsi sebagai pembimbing dalam kehidupannya, menentramkan batinnya.  Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh ahli psikologi dan psikiatri C.G. Jung yang menganggap bahwa agama adalah sarana yang ampuh dan obat yang manjur untuk menyembuhkan manusia dari penyakit neurosis, dan penyakit neurosis yang diderita oleh orang yang berusia sudah 45 tahun keatas adalah berkaitan dengan soal kematian, menyangkut arti dan makna kehidupan (Syukur, 1990).

Kebutuhan spiritual (keagamaan) dapat memberikan ketenangan batiniah. Sehingga religiusitas atau penghayatan keagamaan besar pengaruhnya terhadap taraf kesehatan fisik maupun kesehatan mental, hal ini ditunjukan dengan  penelitian yang dilakukan oleh Hawari (1997), bahwa :

  1. Lanjut usia yang nonreligius angka kematiannya dua kali lebih besar daripada orang yang religius.
  2. Lanjut usia yang religius penyembuhan penyakitnya lebih cepat dibandingkan yang non religius.
  3. Lanjut usia yang religius lebih kebal dan tenang menghadapi operasi.
  4. Lanjut usia yang religius lebih kuat dan tabah menghadapi stres daripada yang nonreligius, sehingga gangguan mental emosional jauh lebih kecil.
  5. Lanjut usia yang religius tabah dan tenang menghadapi saat-saat terakhir (kematian) daripada yang nonreligius.

Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya hubungan positif antara agama dan keadaan psikologis lanjut usia, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Koenig, Goerge dan Segler (1988 dalam Papalia & Olds, 1995) yang menunjukkan bahwa strategi menghadapi masalah  yang tersering dilakukan oleh 100 responden berusia 55th – 80th  tahun terhadap peristiwa yang paling menimbulkan stres adalah  berhubungan dengan agama dan kegiatan religius (Saadah, 2003).

Sebuah penelitian menyatakan bahwa lansia yang lebih dekat dengan agama menunjukkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga diri dan optimisme. Studi lain menyatakan bahwa praktisi religius dan perasaan religius berhubungan dengan sense of well being, terutama pada wanita dan individu berusia di atas 75 tahun (Koenig, Smiley, & Gonzales, 1988 dalam Santrock, 2006). Studi lain di San Diego menyatakan hasil bahwa lansia yang orientasi religiusnya sangat kuat diasosiasikan dengan kesehatan yang lebih baik (Cupertino & Haan, 1999 dalam Santrock, 2006).

Agama dapat memenuhi beberapa kebutuhan psikologis yang penting pada lansia dalam hal menghadapi kematian, menemukan dan mempertahankan perasaan berharga dan pentingnya dalam kehidupan, dan menerima kekurangan di masa tua (Daaleman, Perera &Studenski, 2004; Fry, 1999; Koenig & Larson, 1998 dalam Santrock, 2006). Hasil studi lainnya yang mendukung adalah dari Seybold&Hill (2001 dalam Papalia, 2003) yang menyatakan bahwa ada asosiasi yang positif antara religiusitas atau spiritualitas dengan well being, kepuasan pernikahan, dan keberfungsian psikologis; serta asosiasi yang negatif dengan bunuh diri, penyimpangan, kriminalitas, dan penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Hal ini mungkin terjadi karena dengan beribadah dapat mengurangi stress dan menahan produksi hormon stres oleh tubuh, seperti adrenalin. Pengurangan hormon stress ini dihubungkan dengan beberapa keuntungan pada aspek kesehatan, termasuk sistem kekebalan tubuh yang semakin kuat (McCullough & Others, 2000 dalam Santrock, 2006).

Lansia dengan komitmen beragama yang sangat kuat cenderung mempunyai harga diri yang paling tinggi (Krase, 1995 dalam Papalia, 2003). Individu berusia 65 ke atas mengatakan bahwa keyakinan agama merupakan pengaruh yang paling signifikan dalam kehidupan mereka, sehingga mereka berusaha untuk melaksanakan keyakinan agama tersebut dan menghadiri pelayanan agama (Gallup & Bezilla, 1992 dalam Santrock 1999). Dalam survey lain dapat dilihat bahwa apabila dibandingkan dengan younger adults, dewasa di old age lebih memiliki minat yang lebih kuat terhadap spiritualitas dan berdoa (Gallup & Jones, 1989 dalam Santrock 1999).. Dalam suatu studi dikemukakan bahwa self-esteem older adults lebih tinggi ketika mereka memiliki komitmen religius yang kuat dan sebaliknya (Krause, 1995 dalam Santrock, 1999). Dalam studi lain disebutkan bahwa komitmen beragama berkaitan dengan kesehatan dan well-being pada young, middle-aged, dan older adult berkebangsaan Afrika-Amerika (Levin, Chatters, & Taylor, 1995 dalam Santrock 1999). Agama dapat menambah kebutuhan psikologis yang penting pada older adults, membantu mereka menghadapi kematian, menemukan dan menjaga sense akan keberartian dan signifikansi dalam hidup, serta menerima kehilangan yang tak terelakkan dari masa tua (Koenig & Larson, 1998 dalam Santrock 1999). Secara sosial. Komunitas religius dapat menyediakan sejumlah fungsi untuk older adults, seperti aktivias sosial, dukungan sosial, dan kesempatan untuk mengajar dan peran kepemimpinan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kehidupan spiritual pada lanjut usia dapat memberi ketenangan batiniah, dimana spiritualitas berpengaruh besar pada kesehatan fisik dan kesehatan mental sehingga seorang lanjut usia mampu mengatasi perubahan atau stres yang terjadi dalam hidupnya dan dalam menghadapi kematiannya. Dengan  spiritualitasnya  lanjut usia lebih dapat menerima segala perubahan yang terjadi dalam dirinya dengan pasrah kepada Tuhan, yang tercermin melalui kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya dan dalam menghadapi suatu masalah (coping) dengan lingkungannya.

Adapun gambaran tentang ciri-ciri spiritualitas keagamaan lanjut usia  menurut James (Jalaluddin, 1997), adalah sebagai berikut :

  1. Kehidupan keagamaan sudah mencapai tingkat kemantapan.
  2. Kecenderungan menerima pendapat keagamaan meningkat.
  3. Mulai muncul pengalaman terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara sungguh-sungguh.
  4. Sikap cenderung mengarah pada kebutuhan saling mencintai dengan sesama serta sifat-sifat luhur lainnya.
  5. Muncul rasa takut pada kematian yang meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.
  6. Ciri ke enam berdampak pada meningkatnya pembentukan sikap keberagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi di akhirat

Jadi yang dapat saya sarankan yaitu bahwa seorang lansia perlu lah untuk mendekatkan diri pada Tuhan agar ia mendapatkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga diri dan optimisme, serta sense of well being (kesejahteraan psikis) sehingga ia tidak merasa khawatir, stress atau depresi dalam menghadapi kematian. Sedangkan bila kita menghadapi seorang lansia yang akan menghadapi kematian karena penyakit kronis, maka kita perlu untuk melihat lansia tersebut berada di tahap penyangkalan, marah, depresi ataukah menerima. Sehingga hiburan yang kita berikan dapat di terima olehnya.

Referensi:

http://gkga-sby.org/content/view/443/47/lang,in/

http://rumah-optima.com/optima/index.php?option=com_content&view=article&id=71:spritualitas-usia-lanjut&catid=39:psikologi&Itemid=56

http://www.dapenra.co.id/article/?ID=11

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Program Senam untuk Lansia

Kita semua tahu bahwa usia lanjut adalah suatu fase kehidupan yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai usia panjang. Menjadi tua tidaklah dapat dihindari oleh siapapun, namun manusia dapat berupaya untuk menghambat kecepatan waktunya. Salah satunya dengan olahraga. Oleh karena itu, agar dapat tetap sehat di usia lanjut, pemeliharaan kesehatan haruslah dimulai sejak dini. Artinya aktivitas olahraga merupakan kegiatan yang berlangsung rutin dan kontiniu hingga usia lanjut. Untuk kesehatan, idealnya olahraga harus dilakukan sejak awal.

Kategori untuk manusia lanjut usia (lansia) sendiri sangat bervariasi. Menurut Departemen Kesehatan, manula adalah orang yang sudah mencapai usia 60 tahun. Sementara menurut kedokteran olahraga manula sangat tergantung pada kondisi fisik individu. Jika dia baru berusia 50 tahun, namun secara fisik sudah renta, dia bisa dikategorikan sebagai manula

Setelah mendapat pendidikan mengenai kehidupan orang lanjut usia, tentu saja akan menambah faedah bagi masyarakat bila ilmu pengetahuan tersebut diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang dapat kita lihat di lingkungan sekitar tempat tinggal kita, ada banyak lansia yang menjalani akhir kehidupannya seperti orang yang sedang menunggu “waktunya” yang belum pasti.

Tak jarang lansia di kota Medan ini banyak yang dititipkan ke panti-panti jompo karena pihak keluarga memiliki berbagai alasan untuk melakukan hal tersebut, mulai dari ketidakcocokan dengan lansia tersebut, biaya kehidupan yang tidak mencukupi kehidupan lansia, kesalahpahaman antara pihak keluarga dengan lansia bahkan pertengkaran yang membuat lansia harus ditinggalkan di panti jompo.

Walaupun masih ada lansia yang tinggal bersama pihak keluarganya, kehidupan mereka tidaklah berbeda dengan para lansia yang tinggal di panti jompo. Setiap harinya hanya duduk-duduk di rumah dan menunggu anak-anak dan cucunya menyapanya. Keadaan merekapun sangat memprihatinkan, terutama  para lansia pria yang pada masa mudanya merupakan orang-orang yang aktif. Mereka akan mengalami apa yang disebut “post-power syndrome”.

Sebagaimana yang telah dipelajari bahwa keadaan fisik lansia kian hari kian menurun bila dibandingkan dengan orang-orang yang berada pada fase hidup yang lebih mudah. Bahkan, para lansia ini sering dianggap oleh orang-orang yang lebih muda sebagai orang yang lemah dan tidak perlu melakukan apa-apa lagi karena kelemahan fisiknya. Daripada menambah kerepotan pihak keluarga, para lansia diperlakukan layaknya bayi.

Hal tersebut tentu saja membuat fisik lansia semakin melemah. Belum lagi para lansia tersebut harus mengikuti pola makan keluarganya yang mungkin mengandung unsur-unsur yang seharusnya pada masa lansia sudah harus dikurangi, misalnya makanan yang manis-manis, terlalu asin atau terlalu asam.

Melihat kondisi para lansia yang sangat tidak sehat membuat kami berencana melakukan suatu kegiatan yang akan “menggerakkan” para lansia untuk memiliki hidup yang lebih sehat, sejahtera, lebih berarti dan lebih bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya yaitu melalui program senam untuk lajut usia.

Meski pada umumnya olahraga baik untuk kesehatan, tetapi mungkin ada beberapa bentuk olahraga yang tidak cocok dengan penyakit yang diderita orang tersebut dikarenakan mengingat fisik pada usia lanjut sudah berbeda pada saat usia muda, maka saat ini sudah diciptakan senam khusus untuk lansia. Senam lansia sudah ada standar gerakannya dan sudah diakui dan aman dilakukan.

Senam lansia, gerakannya tidak high impact tapi bersifat low impact. Jika menggunakan musik, tidak menghentak, namun lambat dan mendayu. Gerakan anggota tubuh juga cenderung untuk anggota tubuh bagian atas karena biasanya pada orang usia lanjut, telah terjadi penurunan fungsi pada jantung dan paru-paru.

Sementara itu, olahraga yang kurang dianjurkan bagi orang berusia lanjut adalah olahraga yang menimbulkan beban berlebihan pada otot. Jadi berilah kesempatan bagi otot untuk melakukan pemulihan. Jika ingin melakukan senam, maka gerakan otot tertentu dibatasi sekitar delapan sampai enam belas kali saja. Jangan terus-menerus melakukan gerakan pada otot yang sama.

Latihan yang memerlukan berdiri pada satu kaki atau gerakan-gerakan yang memerlukan keseimbangan tubuh dapat menyebabkan orang berusia lanjut jatuh. Gerakan yang juga kurang baik dilakukan orang berusia lanjut adalah memutar kepala dan meregangkan leher secara berlebihan. Boleh dilakukan asal pelan dan ditahan, bukan gerakan cepat dan menghentak. Bagi Anda yang ingin memilih senam, lakukan secara berkelompok dengan pembimbing yang berpengalaman. Dengan demikian, dapat dihindari gerakan-gerakan yang bisa mencederai tubuh sehingga lansia dapat tetap menjaga kesehatan fisiknya.

Adapun tujuan dirujuknya program ini yaitu dengan maksud untuk meningkatkan kesejahteraan psikis dan fisik lansia sehingga dapat lebih menikmati hidupnya.

Berikut adalah beberapa manfaat senam untuk tubuh kita menurut Asosiasi Kebugaran di Inggris :

  • Meningkatkan kisaran gerak
  • Meningkatkan stamina
  • Melepaskan kecemasan
  • Membantu mencegah penyakit jantung
  • Mencegah osteoporosis
  • Memperbaiki konsentrasi
  • Memperbaiki pandangan hidup
  • Mengurangi nyeri radang sendi
  • Mengendalikan kolesterol
  • Membakar lemak
  • Mempercepat metabolisme
  • Meredakan depresi
  • Meningkatkan kepuasan kerja
  • Mengawetkan otot
  • Mengawetkan organ-organ internal (hati, ginjal)
  • Memperbaiki waktu reaksi
  • Memperbaiki kebugaran kardiovaskuler
  • Meningkatkan energi
  • Memperbaiki koordinasi saraf dan otot
  • Meningkatkan kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi
  • Menurunkan tekanan darah
  • Mengurangi resiko kegemukan
  • Membakar kalori
  • Memperbaiki sembelit
  • Mengurangi stres
  • Meningkatkan perasaan sejahtera
  • Meningkatkan IQ
  • Meningkatkan kreativitas
  • Mengurangi absensi kerja
  • Meningkatkan produktivitas
  • Memperbaiki kelenturan
  • Memperbaiki peredaran darah
  • Meningkatkan mobilitas
  • Meningkatkan ingatan/mengurangi resiko pikun
  • Meningkatkan kesehatan punggung
  • Tidur nyenyak
  • Memperpanjang hidup

Sedangkan menurut Nugroho berpendapat terdapat beberapa manfaat dari olahraga bagi lanjut usia. antara lain:

1) Memperlancar proses degenerasi karena perubahan usia

2) Mempermudah untuk menyesuaikan kesehatan jasmani dalam kehidupan (adaptasi)

3) Fungsi melindungi, yaitu memperbaiki tenaga cadangan dalam fungsinya terhadap bertambahnya tuntutan, misalya sakit.

Pada lanjut usia terjadi penurunan masa otot serta kekuatannya, laju denyut jantung maksimal, toleransi latihan, kapasitas aerobik dan terjadinya peningkatan lemak tubuh. Dengan melakukan olahraga seperti senam lansia dapat mencegah atau melambatkan kehilangan fungsional tersebut. Bahkan dari berbagai penelitian menunjukan bahwa latihan/olahraga seperti senam lansia dapatmengeliminasi berbagai resiko penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit arteri koroner dan kecelakaan. (Darmojo 1999;81)

Selain itu, juga senam yang merupakan aktivitas kebugaran jasmani juga memiliki pengaruh positif terhadap kesejahteraan aspek kehidupan lansia yaitu menurut Darmojo (1999:74) manfaat dari aktivitas dan kebugaran memberikan komponen-komponen yang dapat menjaga kesehatan fisik dan psikologis lansia, seperti:

1)      Self Efficacy (keberdayagunaan-mandiri) adalah istilah untuk menggambarkan rasa percaya atas keamanan dalam melakukan aktivitas. Hal ini sangat berhubungan dengan ketidaktergantungan dalam aktivitas sehari-hari. Dengan keberdayagunaan mandiri ini seorang usia lanjut mempunyai keberanian dalam melakukan aktivitas.

2)      Latihan Pertahanan (resistence training) keuntungan fungsional atas latihan pertahanan berhubungan dengan hasil yang didapat atas jenis latihan yang bertahan, antara lain mengenai kecepatan bergerak sendi, luas lingkup gerak sendi (range of motion) dan jenis kekuatan. Yang dihasilkan pada penelitian-penelitian dipanti jompo didapatkan bahwa latihan pertahanan yang intensif akan meningkatkan kecepatan gart (langkah) sekitar 20% da kekuatan untuk menaiki tangga sebesar 23-38%

3)      Daya Tahan (endurance) daya tahan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kerja dalam waktu yang relatif cukup lama. Pada lansia latihan daya tahan /kebugaran yang cukup keras akan meningkatkan kekuatan yang didapat dari latihan bertahan. Hasil akibat latihan kebugaran tersebut bersifat khas untuk latihan yang dijalankan (training specific), sehingga latihan kebugaran akan meningkatkan kekuatan berjalan lebih dengan latihan bertahan.

4)      Kelenturan (flexibility) pembatasan atas lingkup gerak sendi, banyak terjadi pada lanjut usia yang sering berakibat kekuatan otot dan tendon. Oleh karena itu latihan kelenturan sendi merupakan komponen penting dari latihan atau olah raga bagi lanjut usia.

5)      Keseimbangan-keseimbangan merupakan penyebab utama yang sering mengakibatkan lansia sering jatuh. Keseimbangan merupakan tanggapan motorik yang dihasikan oleh berbagai faktor, diantaranya input sesorik dan kekuatan otot. Penurunan keseimbangan pada lanjut usia bukan hanya sebagai akibat menurunya kekuatan otot atau penyakit yang diderita. Penurunan keseimbangan bisa diperbaiki dengan berbagai latihan keseimbangan. Latihan yang meliputi komponen keseimbangan akan menurukan insiden jatuh pada lansia.

Berikut Contoh Rancangan Program Senam Kesehatan untuk Para Lanjut Usia:

  1. Rancangan program

–          Pemanasan

Program ini akan dimulai pemanasan seperti melenturkan otot-otot kepala, leher, tangan, kaki dan berbagai persendian lansia. Tentu saja setiap gerakan akan dilakukan dengan perlahan-lahan mengingat kerapuhan tubuh lansia. Dimana durasi pemanasan adalah 10 menit.

–          Senam inti

Senam inti setelah pemanasan dilakukan selama 15 menit. Dalam senam inti gerakan yang dilakukan lebih bervariasi dari pemanasan. Tetapi gerakan tersebut dimodifikasi sesuai dengan vitalitas lansia.

–          Pendinginan

Pendinginan dilakukan selama 10 menit. hal ini dilakukan untuk meregangkan otot-otot.

–          Istirahat

Kegiatan istirahat diisi dengan pemberian sarapan pagi bagi para lansia berupa roti dan segelas susu berkalsium tinggi untuk usia lansia yang akan membantu para lansia menjaga kesehatannya. Dalam masa-masa senggang itu, lansia diberi kesempatan untuk bersosialisasi dengan para lansia lainnya, yang memperluas jaringan sosialnya dan mendorong lansia membangun kembali jiwa persahabatannya. Hal ini tentu saja akan menjadi dukungan sosial bagi para lansia ketika mereka merasa kesepian dan membutuhkan teman untuk mencurahkan perasaannya.

2. Pelaksanaan program

–          Dilaksanakan akhir pekan yaitu hari Sabtu/Minggu, pukul 05.30

karena pada waktu tersebut masih belum banyak kendaraan yang diaktifkan, sehingga udara masih terjamin  masih segar.

3. Evaluasi program

–          Untuk melihat keefektifan dari program digunakan kuesioner dan wawancara pada lansia. Hal ini dilakukan agar program yang kurang efektif dapat diperbaiki kembali sehingga kesejahteraan fisik dan psikis lansia dapat terjamin.

4. Sosialisasi program

–          Program disosialisasikan ke panti-panti jompo yang belum memiliki program  rutin akhir minggu yang bisa meningkatkan kesejahteraan psikis dan fisik lansia

–          Program juga disosialisasikan kepada masyarakat agar masyarakat menyadari pentingnya pengadaan rutin akhir minggu berupa senam bagi lansia

–          Membuat brosur yang berisi pentingya menjaga kesehatan tubuh para lansia

Jadi, berdasarkan uraian penjelasan sebelumnya maka dapat kita lihat bahwa kesehatan pada lansia sangat perlu diperhatikan baik itu fisik ataupun psikis. Karena seorang lansia dimana sebagaimana yang kita ketahui bahwa keadaan fisik mereka kian hari kian menurun bila dibandingkan dengan orang-orang yang berada pada fase hidup yang lebih muda. Bahkan, mereka sering dianggap oleh orang-orang yang lebih muda sebagai orang yang lemah dan tidak perlu melakukan apa-apa lagi karena kelemahan fisiknya.

Hal ini membuat fisik dan psikis dari lansia semakin melemah sehingga diperlukan kegiatan rutin yang dapat menghibur para lansia yaitu dapat melalui program senam kebugaran di akhir minggu.

Saran dan harapan saya untuk pelaksanaan program senam kesehatan bagi lansia ini yaitu bahwa program ini akan sangat baik bila dijalankan secara rutin di panti-panti jompo ataupun di masyarakat luas karena seperti yang telah kita ketahui bahwa aktivitas di usia lanjut sangat bermakna bagi para lansia dalam menjaga kesejahteraan psikis dan fisiknya.

Referensi:

www.jambi-independent.co.id

www.tutorialkuliah.blogspot.com

http://rosy46nelli.wordpress.com/2009/12/05/sejarah-senam

http://bali-community.blogspot.com/2008/05/manfaat-olahraga-bagi-kita.html

www.fuadbahsin.wordpress.com

www.kompas.com

Posted in Uncategorized | 5 Comments

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | Leave a comment