Lansia dalam Menghadapi Kematian

Selama proses menuju lanjut usia, individu akan banyak mengalami berbagai kejadian hidup yang penting (important life event) yang sering dipandang sebagai sesuatu yang negatif, antara lain klimaterium, menopouse-andropouse, sangkar kosong (empty nest), berbagai kemunduran fisik, pensiun dan kejadian hidup lainnya yang dapat menyebabkan pemikiran yang negatif. Menurut Hardywinoto dan Setiabudi (1999), pada lanjut usia akan terjadi kehilangan ganda (triple loss) sekaligus yaitu kehilangan peran, hambatan kontak sosial dan berkurangnya komitmen.

Adapun sebab-sebab kematian secara umum, yaitu:

  1. Tua
  2. Sakit
  3. Kecelakaan
  4. Dibunuh
  5. Bunuh diri

Namun sikap lansia itu sendiri terhadap kematian, yaitu:

1)      Berakhirnya existensi manusia atas keadaan yang nyata di dunia ini

2)      Putusnya relasi atas sesama manusia di dunia padahal relasi dengan yang di alam seberang belum di ketahui

3)      Takut menghadap sang Pencipta, terlebih kalau hati nurani masih terganggu Takut kehilangan hal-hal duniawi, seperti harta, kepemilikan dan kedudukan

Sedangkan dalam menghadapi kematian terdapat tahap-tahap jika seorang lansia sudah di vonis dokter bahwa hidupnya tak akan lama lagi, yaitu:

  1. Tahap menyangkal:”Tidak mungkin!”
  2. Tahap marah: “Mengapa saya?”
  3. Tahap tawar menawar:”Apakah tidak ada obat lain?”
  4. Tahap depresi: Susah, Termenung
  5. Tahap menerima

Jadi jika kita ingin memahami dan menghibur orang lain (lansia) yang mengalami masa-masa sulit ini maka kita perlu mengetahui lansia tersebut sedang berada di tahap yang mana sehingga hiburan yang kita berikan dapat di terima olehnya.

Sedangkan menurut Hakim, S.N ( 2003 ) secara fisik lanjut usia pasti mengalami penurunan, tetapi pada aktivitas yang berkaitan dengan agama justru  mengalami peningkatan, artinya perhatian mereka terhadap agama semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya usia .  Lanjut usia lebih percaya bahwa agama dapat memberikan jalan bagi pemecahan masalah kehidupan, agama juga berfungsi sebagai pembimbing dalam kehidupannya, menentramkan batinnya.  Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh ahli psikologi dan psikiatri C.G. Jung yang menganggap bahwa agama adalah sarana yang ampuh dan obat yang manjur untuk menyembuhkan manusia dari penyakit neurosis, dan penyakit neurosis yang diderita oleh orang yang berusia sudah 45 tahun keatas adalah berkaitan dengan soal kematian, menyangkut arti dan makna kehidupan (Syukur, 1990).

Kebutuhan spiritual (keagamaan) dapat memberikan ketenangan batiniah. Sehingga religiusitas atau penghayatan keagamaan besar pengaruhnya terhadap taraf kesehatan fisik maupun kesehatan mental, hal ini ditunjukan dengan  penelitian yang dilakukan oleh Hawari (1997), bahwa :

  1. Lanjut usia yang nonreligius angka kematiannya dua kali lebih besar daripada orang yang religius.
  2. Lanjut usia yang religius penyembuhan penyakitnya lebih cepat dibandingkan yang non religius.
  3. Lanjut usia yang religius lebih kebal dan tenang menghadapi operasi.
  4. Lanjut usia yang religius lebih kuat dan tabah menghadapi stres daripada yang nonreligius, sehingga gangguan mental emosional jauh lebih kecil.
  5. Lanjut usia yang religius tabah dan tenang menghadapi saat-saat terakhir (kematian) daripada yang nonreligius.

Beberapa penelitian juga menunjukkan adanya hubungan positif antara agama dan keadaan psikologis lanjut usia, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Koenig, Goerge dan Segler (1988 dalam Papalia & Olds, 1995) yang menunjukkan bahwa strategi menghadapi masalah  yang tersering dilakukan oleh 100 responden berusia 55th – 80th  tahun terhadap peristiwa yang paling menimbulkan stres adalah  berhubungan dengan agama dan kegiatan religius (Saadah, 2003).

Sebuah penelitian menyatakan bahwa lansia yang lebih dekat dengan agama menunjukkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga diri dan optimisme. Studi lain menyatakan bahwa praktisi religius dan perasaan religius berhubungan dengan sense of well being, terutama pada wanita dan individu berusia di atas 75 tahun (Koenig, Smiley, & Gonzales, 1988 dalam Santrock, 2006). Studi lain di San Diego menyatakan hasil bahwa lansia yang orientasi religiusnya sangat kuat diasosiasikan dengan kesehatan yang lebih baik (Cupertino & Haan, 1999 dalam Santrock, 2006).

Agama dapat memenuhi beberapa kebutuhan psikologis yang penting pada lansia dalam hal menghadapi kematian, menemukan dan mempertahankan perasaan berharga dan pentingnya dalam kehidupan, dan menerima kekurangan di masa tua (Daaleman, Perera &Studenski, 2004; Fry, 1999; Koenig & Larson, 1998 dalam Santrock, 2006). Hasil studi lainnya yang mendukung adalah dari Seybold&Hill (2001 dalam Papalia, 2003) yang menyatakan bahwa ada asosiasi yang positif antara religiusitas atau spiritualitas dengan well being, kepuasan pernikahan, dan keberfungsian psikologis; serta asosiasi yang negatif dengan bunuh diri, penyimpangan, kriminalitas, dan penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Hal ini mungkin terjadi karena dengan beribadah dapat mengurangi stress dan menahan produksi hormon stres oleh tubuh, seperti adrenalin. Pengurangan hormon stress ini dihubungkan dengan beberapa keuntungan pada aspek kesehatan, termasuk sistem kekebalan tubuh yang semakin kuat (McCullough & Others, 2000 dalam Santrock, 2006).

Lansia dengan komitmen beragama yang sangat kuat cenderung mempunyai harga diri yang paling tinggi (Krase, 1995 dalam Papalia, 2003). Individu berusia 65 ke atas mengatakan bahwa keyakinan agama merupakan pengaruh yang paling signifikan dalam kehidupan mereka, sehingga mereka berusaha untuk melaksanakan keyakinan agama tersebut dan menghadiri pelayanan agama (Gallup & Bezilla, 1992 dalam Santrock 1999). Dalam survey lain dapat dilihat bahwa apabila dibandingkan dengan younger adults, dewasa di old age lebih memiliki minat yang lebih kuat terhadap spiritualitas dan berdoa (Gallup & Jones, 1989 dalam Santrock 1999).. Dalam suatu studi dikemukakan bahwa self-esteem older adults lebih tinggi ketika mereka memiliki komitmen religius yang kuat dan sebaliknya (Krause, 1995 dalam Santrock, 1999). Dalam studi lain disebutkan bahwa komitmen beragama berkaitan dengan kesehatan dan well-being pada young, middle-aged, dan older adult berkebangsaan Afrika-Amerika (Levin, Chatters, & Taylor, 1995 dalam Santrock 1999). Agama dapat menambah kebutuhan psikologis yang penting pada older adults, membantu mereka menghadapi kematian, menemukan dan menjaga sense akan keberartian dan signifikansi dalam hidup, serta menerima kehilangan yang tak terelakkan dari masa tua (Koenig & Larson, 1998 dalam Santrock 1999). Secara sosial. Komunitas religius dapat menyediakan sejumlah fungsi untuk older adults, seperti aktivias sosial, dukungan sosial, dan kesempatan untuk mengajar dan peran kepemimpinan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kehidupan spiritual pada lanjut usia dapat memberi ketenangan batiniah, dimana spiritualitas berpengaruh besar pada kesehatan fisik dan kesehatan mental sehingga seorang lanjut usia mampu mengatasi perubahan atau stres yang terjadi dalam hidupnya dan dalam menghadapi kematiannya. Dengan  spiritualitasnya  lanjut usia lebih dapat menerima segala perubahan yang terjadi dalam dirinya dengan pasrah kepada Tuhan, yang tercermin melalui kehidupan yang bermanfaat bagi dirinya dan dalam menghadapi suatu masalah (coping) dengan lingkungannya.

Adapun gambaran tentang ciri-ciri spiritualitas keagamaan lanjut usia  menurut James (Jalaluddin, 1997), adalah sebagai berikut :

  1. Kehidupan keagamaan sudah mencapai tingkat kemantapan.
  2. Kecenderungan menerima pendapat keagamaan meningkat.
  3. Mulai muncul pengalaman terhadap realitas tentang kehidupan akhirat secara sungguh-sungguh.
  4. Sikap cenderung mengarah pada kebutuhan saling mencintai dengan sesama serta sifat-sifat luhur lainnya.
  5. Muncul rasa takut pada kematian yang meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.
  6. Ciri ke enam berdampak pada meningkatnya pembentukan sikap keberagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi di akhirat

Jadi yang dapat saya sarankan yaitu bahwa seorang lansia perlu lah untuk mendekatkan diri pada Tuhan agar ia mendapatkan tingkatan yang tinggi dalam hal kepuasan hidup, harga diri dan optimisme, serta sense of well being (kesejahteraan psikis) sehingga ia tidak merasa khawatir, stress atau depresi dalam menghadapi kematian. Sedangkan bila kita menghadapi seorang lansia yang akan menghadapi kematian karena penyakit kronis, maka kita perlu untuk melihat lansia tersebut berada di tahap penyangkalan, marah, depresi ataukah menerima. Sehingga hiburan yang kita berikan dapat di terima olehnya.

Referensi:

http://gkga-sby.org/content/view/443/47/lang,in/

http://rumah-optima.com/optima/index.php?option=com_content&view=article&id=71:spritualitas-usia-lanjut&catid=39:psikologi&Itemid=56

http://www.dapenra.co.id/article/?ID=11

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s