Studi Kasus ALTER-JANE

dari sudut pandang Psikologi Klinis

Jane Deviyanti Hadipoespito (21) diliputi rasa duka. Pasalnya sang suami, Alterina Hofan (32), lelaki transgender akhirnya meringkuk di tahanan lantaran dituduh memalsukan identitas. Tak kurang akal, gadis tuna rungu ini membuat ‘Gerakan Peduli Alter dan Jane’ di situs jejaring sosial Facebook. Dukungan kini mencapai hampir 2 ribu orang.(sumber: www.tabloidnova.com)

Berdasarkan berita, diketahui bahwa Alterina Hofan (32) mengidap syndrom klinefelter yang sedari kecil dianggap sebagai seorang perempuan, tetapi kemudian ia mengubah status identitas gendernya menjadi seorang pria. Sedangkan Jane Deviyanti Hadipoespito (21) adalah seorang wanita tuna rungu, putri dari CEO Universitas Binus, yang telah menjadi istri dari Alterina Hofan.

Penyebab kasus dari Alter-Jane adalah berasal dari orangtua Jane. Berdasarkan laporan orangtua Jane yang pada awalnya melaporkan bahwa Alter menculik Jane, tetapi kemudian di ubah setelah mengetahui bahwa Jane adalah istri sah Alter. Laporan kemudian di ubah menjadi laporan dengan tuntutan pelanggaran Pasal 266 KUHP tentang Pemalsuan Identitas dalam Akta Otentik juncto Pasal 263 KUHP dan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan. Orang tua Jane dalam hal ini ibu Jane yang bernama Grace yang menyatakan bahwa Alter melakukan pemalsuan keterangan gender dalam akta otentik.

Dalam kasus ini, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan oleh psikolog klinis dalam membuat evaluasi dan rekomendasi untuk membantu penyelesaian perselisihan antara orangtua Jane dan pasangan pasangan Alter dan Jane.

INTERVENSI

Berdasarkan pemaparan kasus yang sesuai dengan pemberitaan di media massa, psikolog klinis dapat menempatkan dirinya dalam area Law Enforcement Psychology yaitu dimana dalam area ini psikolog klinis secara langsung mendukung agensi yaitu seperti menyediakan intervensi krisis untuk polisi dengan membantu polisi menanyakan saksi mata untuk meningkatkan rekoleksi polisi mengenai tindakan kriminal.

Hal-hal yang dapat dilakukan yaitu:

  1. Menggali informasi mengenai awal kelahiran Alter dari pihak kedokteran dan pihak-pihak yang menangani kelahiran Alter. Untuk mengetahui bagaimanakah kronologis ketika Alter lahir. Apakah Alter lahir dengan ciri kelamin perempuan atau kah pihak kedokteran yang menangani kelahiran Alter pun mengalami kebingungan atas kelamin Alter  karena ciri kelamin Alter tidak biasa yang disebut syndrome klinifelter?
  2. Menginterview ibu Alter untuk mengetahui tentang latar belakang, historis kehidupan kedua orang tua Alter dan kehidupan semasa di Papua.
  3. Menginterview ibu Alter dan pihak-pihak yang memiliki kaitan dengan diubahnya identitas kelamin pada surat-surat Akta dan KTP seperti yang dituduhkan ibu Jane. Seperti pihak kelurahan yang mengubah dan pihak-pihak terkait lainnya. Juga menginterview ibu Jane untuk mengetahui kronologis yang terjadi hingga akhirnya ibu Jane menyetujui dan membuat permohonan pengubahan identitas Alter.
  4. Menginterview kedua orangtua Jane untuk mengetahui latar belakang, historis dan yang menyebabkan kedua orangtua Jane melaporkan menantunya (Alter) hingga Alter harus mendekap dalam penjara.
  5. Melakukan pemeriksaan Forensik pada Alter yang dilakukan pihak diluar keluarga Jane dan pasangan Alter Jane. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi manipulasi terhadap hasil pemeriksaan forensic tersebut oleh pihak siapapun. Sehingga untuk hal yang berhubungan dengan pemeriksaan forensik mengenai kejelasan kelamin Alter dan jika memang Alter benar memiliki gangguan yang dalam hal ini disebutkan sebagai syndrome klinifelter ada kejelasan yang pasti dan tidak tumpang tindih seperti yang saat ini terjadi.
  6. Melakukan interview dan assessment lainnya khususnya pada kedua orangtua Jane dan juga pada ibu Jane.
  7. Melampirkan tes psikologi yang menunjukkan bahwa orientasi seksual Alter memang memiliki gender sebagai pria (maskulin) bukan wanita (feminim) dengan alat yang valid dan reliabel
  8. Melampirkan tes psikologi yang valid dan reliabel yang dapat menunjukkan bahwa Alter adalah seorang yang normal
  9. Melampirkan konsekuensi-konsekuensi (faktor eksternal dari lingkungan) yang akan di alami Alter bila ia mengubah status gendernya dari perempuan menjadi laki-laki ketika ia masih anak-anak

10.  Dengan memberikan pada pengadilan lampiran bukti-bukti hasil tes dari jenis kelamin alter dari rumah-rumah sakit yang berbeda yang menunjukkan bahwa ia berkelamin pria dalam syndrom Klinefelter

11.  Melampirkan kasus-kasus yang mirip dengan Alter dan berhasil memenangkan persidangan

12.  Melampirkan UU yang mengatur atau memperbolehkan seseorang dengan kelainan fisik akibat bawaan lahir (sindrom kinefelter) untuk mengobati kelainannya guna melangsungkan kehidupannya

Dari uraian hal-hal dan saran-saran yang mungkin dapat dilakukan oleh psikolog klinis dalam area Law Enforcement Psychology, sedangkan dalam pengadilan seorang psikolog klinis dapat berperan dalam kegiatan The Experts Witness (saksi ahli). Disini psikolog klinis  menjabarkan kompetensi-kompetensi Alter sebagai pasien dengan syndrom Klinefelter mendapatkan hak-haknya untuk mendapatkan treatment yang dapat membuatnya sembuh atau sekurang-kurangnya membaik baik fisik dan psikis. Dan menjelaskan mengapa Alter berprilaku mengubah identitas gendernya di saat dewasa dan bukan di saat anak-anak. Dan penjelasan tersebut di uraikan dengan menggunakan pengetahuan teori psikologi yaitu seperti dengan menggunkan teori dari Deutsch & Krauss, 1965) tentang level of aspiration. Teori ini menyatakan bahwa keinginan seseorang melakukan tindakan ditentukan oleh tingkat kesulitan dalam mencapai tujuan dan probabilitas subyektif pelaku apabila  sukses dikurangi probabilitas subjektif kalau gagal.  Teori ini dapat dirumuskan dalam persama seperti berikut:

V = (Vsu X SPsu) – (Vf X SPf)

Dimana:

V = valensi = tingkat aspirasi seseorang

su= succed = suksesf = failure = gagal

SP= subjective probability

Dan menjelaskan kondisi Alter dengan menggunakan pendektaan Teori Kognitif yaitu tindakan yang dilakukan Alter mengganti identitas adalah normal dan bukan bentuk penyimpangan ataupun upaya transgender. Psikolog dapat menguraikan hal-hal dan upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh seorang penyimpang yang berniat kriminalitas dan membandingkan prilaku tersebut dengan prilaku Alter yang normal.  Dimana “normal” dalam arti ini adalah setelah disesuaikan dengan kondisi eksternal (lingkungan) dan internal Alter.

Demikian hal-hal dan upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh seorang psikolog klinis dalam psikologi forensik.

Referensi:

http://forum.psikologi.ugm.ac.id/index.php?topic=56.0;wap2

http://d-tarsidi.blogspot.com/2009/03/psikologi-forensik.html

http://aldiavanza.blogspot.com/2010/04/psikologi-forensik.html

www.kompas.com

www.tabloidnova.com

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s